Siapa Bilang Jadi Guru Itu Gampang

11 Januari 2007 at 5:11 am 5 komentar

Kompas – Senin, 04 Desember 2006

Selama ini guru cenderung dianggap sebagai profesi kelas dua.
Sebagian besar orang tidak mau menjadi guru, kecuali karena kepepet
alias daripada menganggur.

Ada anggapan seakan siapa pun yang sudah mengantongi ijazah sarjana
bisa menjadi guru asal dia mau. Pekerjaannya juga mudah, hanya pagi
datang, mengajar, siang sudah bisa pulang.

Profesi guru cenderung dianggap gampang. Orang sering kali lupa
bahwa guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan.
Walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan
pendidikan, guru tetaplah merupakan titik sentral proses pendidikan.
Tanpa guru, proses pendidikan akan timpang.

Lahirnya Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen membawa sedikit angin
segar bagi profesi guru. UU ini menjadi semacam payung hukum,
sekaligus merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap profesi
guru. Diharapkan dengan adanya UU Guru dan Dosen martabat guru
semakin dihargai, profesi guru dapat berkembang sejajar dengan
profesi-prosesi lain, dapat mendorong peningkatan kualitas guru, dan
akhirnya bermuara pada peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air.

Paling tidak dengan adanya UU Guru dan Dosen, saat ini profesi guru
pun mulai dilirik orang, khususnya setelah UU tersebut menjanjikan
perbaikan kesejahteraan guru, yaitu tunjangan sebesar satu kali gaji
pokok dan tambahan tunjangan fungsional.

Meski demikian, UU Guru dan Dosen juga membawa konsekuensi yang
tidak mudah bagi para guru. Meski menjanjikan perbaikan
kesejahteraan bagi para guru, UU ini juga menuntut banyak hal dari
para guru.

Sebelum mencicipi tunjangan sebesar satu kali gaji pokok dan
tambahan tunjangan fungsional sebesar Rp 500.000 per bulan, guru
mesti memenuhi berbagai persyaratan terlebih dahulu. Kualifikasi
akademis minimal strata satu (S1) atau D-IV, serta harus memiliki
sertifikat pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi dan
serangkaian uji kompetensi.

Syarat tersebut tampaknya hal yang lumrah, tuntutan yang wajar bagi
sebuah profesi. Namun, tidak demikian halnya dengan profesi guru di
negeri ini. Jika kita menengok realitas guru saat ini, persyaratan
tersebut merupakan masalah dan tantangan yang berat.

Dari hampir 2,7 juta guru di Indonesia, 1,8 juta guru belum memenuhi
kualifikasi akademis S1. Di tingkat sekolah menengah tidak begitu
parah; 62,08 persen guru sekolah menengah telah mengantongi ijazah
S1. Akan tetapi, di tingkat pendidikan dasar, terutama SD,
situasinya sangat parah. Dari sekitar 1,3 juta guru SD, hanya 8,3
persen yang telah memenuhi kualifikasi akademis S1. Program
massalisasi peningkatan derajat akademik guru SD menjadi D-II pun
selama belasan tahun hanya mencapai 40 persen. Kebanyakan guru SD
hanya berkualifikasi D-I atau di bawahnya.

Untuk memenuhi syarat kualifikasi akademis harus S1 berarti sebanyak
1,8 juta guru harus menempuh studi lagi. Padahal, UU Guru dan Dosen
hanya memberi batasan waktu hingga 10 tahun ke depan.

Mungkinkah? Dananya dari mana? Apakah pemerintah mampu membiayai?

Jika guru sendiri yang harus membiayai, tampaknya dengan situasi
taraf penghidupan guru sekarang akan sulit untuk direalisasikan.
Selain itu juga harus diingat keterbatasan LPTK dalam menampung guru
yang akan melanjutkan studi guna memenuhi kualifikasi akademik S1.
Jadi, bisa dipastikan akan ada banyak guru yang tercecer.

Artinya, hingga 10 tahun ke depan mungkin masih akan banyak guru
yang belum memenuhi kualifikasi akademis S1. Situasi demikian akan
memunculkan kompetisi yang sangat ketat di antara para guru. Para
guru mau tidak mau harus bersaing dengan sesama guru lainnya supaya
tetap bisa bertahan menjadi guru.

Bukan jaminan

Apakah ketika kualifikasi akademis S1 dipenuhi sudah berarti
selesai? Ternyata syarat kualifikasi akademis S1 itu pun juga belum
cukup, guru mesti memperoleh sertifikat pendidik lagi.

Betapa susahnya bagi guru hanya untuk sekadar memperoleh tunjangan
profesional sebesar satu kali gaji pokok dan tunjangan fungsional
sebesar Rp 500.000. Jadi, siapa bilang jadi guru gampang?

Juga harus diingat, memenuhi kualifikasi akademis S1, memiliki
sertifikat pendidik, maupun lulus uji kompetensi tidak dengan
sendirinya menjamin seorang guru berkualitas dan layak mengajar atau
dengan sendirinya menjadikan seorang guru menjadi profesional.
Apalagi jika semua itu diperoleh melalui jalan pintas, hanya
formalitas.

Kualifikasi akademis S1 dan sertifikat pendidik hanyalah tuntutan
formal-legal yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi guru. Akan
tetapi, kualitas guru yang sesungguhnya ditentukan oleh
profesionalitas dan kecintaannya pada profesi yang digeluti, yaitu
ketika mereka berada di ruang kelas bersama-sama dengan dan melayani
siswa. Mengajar dan mendidik, memanusiakan manusia-manusia muda. Hal
ini sesungguhnya jauh lebih sulit dipenuhi dan sekaligus menjadi
tantangan yang tiada habisnya bagi seorang guru.

Dinamika pendidikan di negeri ini yang sangat fluktuatif, mudah
berubah-ubah, menuntut guru untuk bisa fleksibel, adaptif dan
bergerak dengan cepat. Kurikulum pendidikan yang senantiasa bisa
berganti sewaktu-waktu adalah contoh yang bisa ditunjuk untuk
mengilustrasikan situasi ini. Demikian juga dengan ujian nasional
(UN), yang selalu tidak jelas pada setiap awal tahun pelajaran,
antara ada dan ditiadakan, dengan kriteria/standar kelulusan yang
berubah-ubah dan sering kali baru ada kepastian beberapa bulan
menjelang pelaksanaan UN.

Berhadapan dengan situasi demikian, di mana guru acap kali menjadi
obyek kebijakan pendidikan, sungguh dibutuhkan ketahanan, kesabaran,
penyesuaian, dan penyikapan yang tidak mudah.

Banyak tuntutan

Guru senantiasa dituntut untuk berkembang seiring berkembangnya
zaman. Sebab, zaman yang berubah juga menuntut perubahan peranan
guru dalam proses pendidikan. Jika sebelumnya peran guru menekankan
pembentukan wawasan serta pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan pada abad industri, kini peran guru mesti bergeser
menjadi fasilitator pembelajaran yang merupakan tuntutan abad
informasi.

Perubahan ini tidak berarti tugas dan tanggung jawab guru menjadi
lebih ringan karena guru tetap memiliki tanggung jawab dalam
pembentukan pengetahuan, keterampilan dan sikap-nilai dari proses
pembelajaran yang berlangsung, serta bertanggung jawab untuk
berpartisipasi secara nyata dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan
secara utuh.

Konsekuensinya, guru mesti memahami karakteristik dan isi bahan
ajar, menguasai konsep, mengenal metodologi ilmu yang diampunya,
memahami konteks bidang studi itu, juga kaitannya dengan masyarakat,
lingkungan, dan ilmu pengetahuan lain.

Selain itu, guru juga dituntut untuk mengenal lebih dalam
kepribadian para siswanya. Oleh karena itu, guru mesti juga memahami
pendekatan personal, menguasai ilmu psikologi dan perkembangan anak,
menguasai teori-teori pedagogis, menguasai serta mampu mengembangkan
berbagai model pembelajaran.

Hal ini menuntut peningkatan kualitas dan kompetensi dari para guru,
dengan terus-menerus memperbarui diri sesuai dengan tuntutan zaman.
Lebih dari itu, guru mesti mencintai profesinya. Kecintaan akan
profesi merupakan pintu masuk bagi guru untuk menjadi profesional
dan berkualitas. Seperti jejaka mencintai gadis pujaannya, ia rela
melakukan apa saja demi gadis yang dicintainya. Jika guru mencintai
profesinya, mencintai anak-anak didiknya, apa pun hambatan dan
kesulitan yang dihadapi—apalagi hanya gaji yang rendah atau
tunjangan yang disunat—tidak akan sanggup mematahkan semangat guru
untuk berkarya demi memanusiakan manusia-manusia muda.

Dan, untuk dapat mencintai profesinya, guru harus menengok kembali
ke belakang, mengapa ia menjadi guru. Memurnikan kembali motivasi
awal menjadi guru. Menghapus keterpaksaan masa lalu dan menukarnya
dengan kejernihan visi dan misi baru.

Bahwa dengan memilih menjadi guru, ada tanggung jawab moral dan
sekaligus tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar daripada
sekadar keterpaksaan diri, yang mesti diemban oleh guru. Dan, harus
diakui, ini juga bukan perkara mudah. Butuh proses yang sangat
panjang.

Jadi, siapa bilang jadi guru itu gampang! Indonesia, hargailah
gurumu! Hanya dengan cara begitu pendidikan di negeri ini akan maju.

Salam

Om Ino

Iklan

Entry filed under: Petikan Berita.

Perjuangan Memperoleh Beasiswa Menyalurkan stress kuliah dengan olahraga

5 Komentar Add your own

  • 1. joniandra  |  13 Januari 2007 pukul 2:16 pm

    Aku sebagai seorang guru, merasa berat …. guru itu tidak hanya kepandaiannya dalam proses pembelajaran saja loh…… tapi yang lebih utama sifatnya harus sebagai seorang guru dimanapun berada (itulah yang berat)

    Balas
  • 2. helgeduelbek  |  30 Januari 2007 pukul 12:52 am

    Sementara salam kenal dulu…saya guru di kalimantan tengah.

    Balas
  • 3. andini  |  10 Juni 2007 pukul 2:45 pm

    saya sekarang masih dalam keg mengambil akta mengajar di salah satu perguruan tinggi di jateng. menurut saya yang paling mendasar untuk menjadi seorang guru ialah kita harus mempunyai panggilan jiwa sebagai tenaga pengajar/pendidik. karena dengan demikian semua yg terjadi dalam keg pengajaran dapat berjalan dengan lancar. baru kemudian ditunjang dengan skil/kemampuan akademik yang baik. semua itu agar pendidikan dinegara kita meningkat tidak merosot.trims

    Balas
  • 4. edse  |  7 Mei 2009 pukul 10:26 am

    bagaimana jika semua yang ingin jadi guru ikut test, semacam lomba dalam bidang masing-masing, jadi bisa dilihat siapa yang bisa dan mampu dalam penguasaan materi ajar. Karena saya sudah bosan dengan pengajar yang jika ditanya cuma bisa ngeles doank. Cihhhhhh…..

    Balas
  • 5. rachmat yanwari  |  3 Januari 2010 pukul 9:06 pm

    saya dari bandung, masih TA S1, terimakasih infonya, saya sangat terbantu..
    kebetulan saya tertarik pengen jadi guru, karena pada dasarnya saya senang mengajar,, dan peduli terhadap pendidikan Indonesia.,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 61,414 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: