Archive for Maret, 2007

Hari Sabtu di BSM

Sabtu pagi tiba-tiba dering handphoneku berbunyi mengisyaratkan ada pesan yang masuk, setelah kubaca ternyata sms dari uncle jhon. Dia mengajakku untuk melihat pameran es di BSM sambil mencoba koneksi wifi gratis di area foodcourtnya.

Walaupun sebenarnya aku agak malas karena lagi ada mood untuk ngerjain tesis dan tugas dari pak Albarda, untungnya janjiannya jam 11 jadi masih ada waktu untuk ngutak atik tesis dan tugas tersebut. Tepat jam sebelah tentunya setelah aku nyelesaiin tugas, makan dan mandi, akhirnya om Jhon tiba dikostanku, lalu kami pun menuju Cihampelas untuk naik angkutan umum jurusan Margahayu ledeng trus nyambung lagi naik cicadas elang. tetapi di perjalanan Om jhon ketiduran :D.

joni tidur

Ketika sampe di BSM kami langsung mencoba koneksi di foodcourt, sayangnya stop kontaknya gak dapat dipakai, jadi kami hanya makai baterai sehingga aku gak sampe sejam online. setelah bateraiku ngedrop aku lalu keliling mall kebetulan ada event yang di gelar oleh honda.

setelah kami sholat lalu kami bermaksud melihat pemeran pahat es, tetapi aku jadi malas kesana karena sesuatu alasan, akhirnya Om jhon juga gak jadi kesana, akhirnya kami nongkong di depan big stage yang digelar di pelataran BSM.

Dan setelah menunggu sekian lama, akhirnya bintang tamu yang mengisi acara tersebut tampil juga, yaitu G-Rock dan band favorit ku, Steven and The Coconut Tress dengan musik khas reggenya. wah seru banget. sayangnya om jhon kayaknya gak terlalu suka dengan acara seperti ini, jadi setelah sore kami pulang, padahal malam harinya masih ada project pop. hehe

Sekian laporan dari BSM

Salam

Om Ino

26 Maret 2007 at 3:07 am 1 komentar

Lintah pengisap darah

Pernakah anda melihat lintah? ya lintah adalah hewan yang merupakan parasit makhluk hidup lain karena mereka hidup dengan menghisap darah dari makhluk yang di parasiti (bener gak yah?).

Aku terkadang berfikir kalau beberapa perusahaan selular di Indonesia memberikan beban biaya percakapan yang cukup mahal, walaupun sudah ada beberapa  provider yang berbasis CDMA yang tergolong murah, tetapi kekita melakukan pembicaraan lintas provider tetap saja akan mendapat tarif yang lebih mahal.

Telepon selular saat ini mungkin bukan barang yang langka, bahkan bisa dibayangkan klu sehari saja kita tidak membawa telepon selular, ketergantungan kita ini menjadi sasaran empuk bagi para provider dengan secara periodik mengeluarkan vitur layanan yang menggoda bagi para pelanggannya untuk mencoba layanan baru tersebut.

Aku kadang berfikir, dulu aku gak pake HP tetapi semua urusan juga lancar kok, tetapi sekarang ketika akan mengurus sesuatu atau bepergian tanpa membawa HP kayaknya urusan ataupun perjalan kita tidak akan lancar :D.

mungkin semakin maju tinggkat peradaban manusia maka semakin besar tingkat ketergantungan kita terhadap teknologi yang dipakai diperadaban tersebut.

ada yang berpendapat lain???

salam

Om Ino

26 Maret 2007 at 2:53 am 2 komentar

Lactop —> Anggota DPR :D

Saat ini telah dalam proses tender untuk pengadaan lactop bagi anggota dewan yang terhormat. Di sisi lain penderitaan rakyat akibat beberapa fenomena alam yang terjadi belakangan ini semakin membelit kedalam belenggu kemiskinan.

Entah inisiatif siapa yang memunculkan ide untuk pengadaan lactop tersebut, dan entah ada niat apa dibalik inisiatfi tersebut yang tak tanggung-tanggung mematok harga sekitar 21 juta per unit.

Dalam benak saya terlintas beberapa pikiran miris tentang hal tersebut :

  1. mungkin anggota DPR gak mau kalah ama si tukul yang hampir tiap malam mengutak atik lactop ketika show di salah satu stasiun televisi nasional;
  2. mungkin juga karena masa jabatan mereka yang bisa dianggap menghampiri paripurna sehingga ingin membuat cendramata di masa jabatan mereka, walaupun katanya akan dikembalikan ke negara jika mereka demisioner;
  3. atau mungkin juga mereka ingin mempercepet kinerja mereka dalam mengemban amanah rakyat (alahhhhh tak sobek-sobek :D)
  4. tetapi apakah cukup siknifikan membantu kinerja mereka?…..
  5. apakah mereka sudah cukup siap dengan kemampuan dasar untuk mengelola informasi melalui lactop tersebut??
  6. atau…….. biar tampak lebih keren aja, ada yang bisa di utak atik klu lagi rapat dari pada tidur 😀

Terlepas dari semuanya itu, kok begitu gampangnya duit negara di hamburkan untuk kepentingan sang anggota dewan yang terhormat itu yang klu menurut hemat saya mereka tak lebih dari pesuruh rakyat untuk membantu menyampaikan aspirasi masyarakt kepada pemerintah. (pesuruh kok lebih makmur dari rakyat, di mana korelasinya ??).

Aku sekarang bertanya-tanya, kok janji-janji yang mereka umbar semasa kampanye gak pernah didengungkan lagi, kata-kata sakti itu sepertinya di tayangkan hanya 5 tahun sekali menjelang pemilihan umum.

Seharusnya ketika mereka kampanya harus dibuat kontrak dengan rakyat di atas kertas materai, sehingga klu mereka menjabat sebagai anggota DPR dan melanggar janji-janjinya dapat dipidanankan sesuai dengan kontrak yang tertera semasa mereka kampanye… gimana setuju gak??? 😀 yang gak setuju jangan-jangan ada keinginan untuk jadi anggota DPR juga yah kayaknya heheh :D.

Salam

Om Ino

26 Maret 2007 at 2:39 am 1 komentar

Percaya gak percaya!

Dapet dari milis tetangga nih.

Dunia terperangah ketika Beckham dihadiahi kontrak senilai US$ 250 million

untuk berlaga 5 tahun di Los Angeles Galaxy. Dengan asumsi bahwa
Beckham terus berlaga nantinya, diperkirakan Beckham meraih 1 juta
rupiah per menit untuk penampilannya di lapangan hijau. Walau sebenarnya revenueyang didapat oleh Beckham, ternyata “masih kurang mahal” dibandingkan
para atlet di cabang golf, yakni Tiger Woods, ataupun para atlet basket
seperti Shaquille O’Neill, Kobe Bryant dll.

1 juta rupiah per menit? Weww, jumlah yang fantastis. Di USA dan Eropa, biasanya
ke-fantastis- an itu dihitung dalam berapa waktu yang diperlukan untuk
meraih US$ 1 juta? Berapa menit kah? Berapa jam kah?

FYI, aktualitasnya, dalam hal fantastis pun bangsa kita tidak ketinggalan.
Kenalkah anda dengan Mas Tukul Arwana, host Acara Empat Mata yang kini
ratingnya tengah menjulang? Konon untuk penampilan dalam 1 jam itu, doi
dibayar 20 juta rupiah. Karena iklan yang bertubi-tubi, kira-kira masa
Mas kocak ini membawakan acara hanyalah 40 menit saja (asumsinya). 20
juta dalam 40 menit didapatnya, atau dengan kata lain, yang diraih doi
adalah:

0.5 JUTA RUPIAH PER MENIT atau 1 JUTA RUPIAH PER 2 MENIT !!

Wewww, fantastis bukan? Ternyata Mas yang satu ini cuma kalah setengahnya dari
Beckham. Itu belum termasuk penghasilan off air beliau.
Silahkan bandingkan dengan UMR buruh kita, yang rata-rata 750 ribu per bulan,
alias 750 ribu dalam 160 jam kerja atau 750 ribu dalam 40 x 160 = 6400
menit, atau 0.5 juta dalam 4300 menit. Bisa dibilang penghasilan Mas
Tukul adalah 4300 x UMR para buruh. Hebat yahh, sekali ngoceh “Tak
sobek-sobek mulutmu”, udah dikasih 0.5 juta lho! Semoga apa yang
didapatnya saat ini adalah karena memang dia deserve untuk meraihnya, dan bukan karena over paid.
Yang jelas, penghasilannya jauh di atas para pejabat eksekutif dan legislatif, dengan catatan para pejabat tersebut tidak korupsi.

Kesimpulan
akhir, ternyata Indonesia punya “David Beckham” juga lho. Kesimpulan
tambahan, inilah gambaran ketimpangan penghasilan di Nusantara.
TANYA KENAPA?

Bagaimana dengan diri anda? Berapa waktu yang anda perlukan untuk meraih 1 juta
rupiah? Apakah sanggup mengalahkan rekor Mas Tukul yang cuma memerlukan
2 menit saja?

Salam

Om Ino

23 Maret 2007 at 3:25 am 1 komentar

Menggadaikan Etika Profesi

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/14/opini/3377628.htm
Doni Koesoema A

Gong kematian pendidikan nasional telah dibunyikan. Sekolah dan guru tidak
lagi percaya dan dipercaya sebagai pendidik dan pengajar. Tugas mereka
telah digantikan lembaga bimbingan belajar atau bimbel. Etika profesi pun
digadaikan demi uang! Silap terhadap uang akan membuat sebuah
pemerintahan hancur. Intuisi Solon (630-560 SM) juga berlaku bagi dunia
pendidikan kita. Jika mereka yang bertanggung jawab dalam mengurus
pendidikan di negeri ini silap uang, mulai dari pejabat di tingkat pusat
sampai guru di tingkat sekolah negeri, akhir dunia pendidikan kita ada di
depan mata. Kehadiran lembaga bimbel di sekolah negeri adalah tanda
paling jelas tentang hancurnya moralitas dan matinya etika profesi.
Menjadi guru adalah menghayati profesi. Apa yang membedakan sebuah profesi
dengan pekerjaan lain adalah bahwa untuk sampai pada profesi itu seseorang
berproses lewat belajar. “Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga
berwujud sebagai jabatan dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut
keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan itu serta
pelayanan baku terhadap masyarakat.” (HAR Tilaar, 2002, 86) Tanpa etika
profesi, lembaga pendidikan hanya akan diisi orang-orang yang bernafsu
memuaskan kepentingan diri dan kelompok. Tanpa etika profesi, nilai
kebebasan dan individu tidak dihargai. Untuk inilah, tiap lembaga
pendidikan memerlukan keyakinan normatif bagi kinerja pendidikan yang
sedang diampunya. Etika profesi dan standar moral harus dimiliki tiap
individu yang terlibat dunia pendidikan. Ini penting sebab corak
relasional antarindividu dalam lembaga pendidikan tidak imun dari unsur
kekuasaan yang memungkinkan ditindasnya individu yang satu oleh individu
lain. Selain itu, etika profesi menjadi pedoman saat muncul konflik
kepentingan agar kepentingan masyarakat umum tetap terjamin melalui
pelayanan profesional itu. Tanpa etika profesi, lembaga pendidikan
berubah menjadi toko grosiran di mana keuntungan dan tumpukan uang
menjadi tujuan. Dalam kenyataan, tiap individu dalam dunia pendidikan
terlibat negosiasi dan perjumpaan dengan orang lain, seperti guru,
karyawan, orangtua, siswa, masyarakat, pegawai pemerintahan, dan lembaga
bimbel. Peristiwa perjumpaan ini amat rentan dengan konflik kepentingan.
Jika konflik kepentingan muncul, manakah standar moral dan etika profesi
yang dipakai sebagai sarana untuk memecahkan konflik? Maksim moral Kant
Setiap profesi, apa pun, termasuk guru, tidak dapat melepaskan diri
dari prinsip moral dasar yang diajukan Immanuel Kant. Maksim moral
Immanuel Kant berbunyi, “Bertindaklah terhadap kemanusiaan itu sedemikian
rupa sehingga engkau memperlakukan pribadi itu sendiri atau yang lain
bukan sebagai alat, tetapi sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri.”
Dengan memperlakukan individu atau pribadi dalam kerangka tujuan
keberadaan
mereka, Kant implisit mengakui, tiap individu memiliki nilai-nilai
intrinsik. Individu itu bernilai dalam diri sendiri. Karena itu, tiap
penguasaan atau perbuatan yang menundukkan mereka, menjadi sarana bagi
tujuan pribadi individu, merupakan pelanggaran atas norma moral. Kerja
sama antara lembaga sekolah dan lembaga bimbel menyiratkan adanya konflik
kepentingan. Demi kepentingan siapa lembaga bimbel itu ada? Siswa, guru
dan sekolah, orangtua, atau lembaga bimbel? Mungkin ada yang berpendapat,
yang diuntungkan adalah semua, yaitu siswa, guru/sekolah, orangtua, dan
lembaga bimbel. Siswa bisa kian percaya diri dalam menghadapi ujian
nasional (UN). Orangtua merasa nyaman dan aman anaknya akan siap
menghadapi UN dan tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, sekolah untung
karena prestasi menjadi tinggi, guru untung sebab dapat tambahan uang
saku, dan lembaga bimbel untung karena dapat fulus dari proyek ini. Namun
tidak semua berpendapat demikian sebab tidak semua siswa, guru,
dan orangtua diuntungkan! Kehadiran lembaga bimbel di sekolah merupakan
indikasi konflik kepentingan yang mengorbankan martabat guru, memperalat
siswa, mengelabui orangtua, dan menipu masyarakat. Maksim moral Kant
mensyaratkan, dalam setiap hal kita harus menghormati pribadi atau yang
lain sebagai bernilai dalam diri sendiri dan tidak pernah memanfaatkan
mereka sebagai alat demi tujuan tertentu (bahkan yang tampaknya baik dan
menguntungkan!) Tugas mendidik dan mengajar siswa merupakan hak
istimewa yang menjadi monopoli guru. Ketika tugas ini diserahkan kepada
lembaga lain yang tidak memiliki monopoli profesi muncul pertanyaan.
Selama ini apa yang telah dilakukan para guru dalam mendidik siswa?
Keinginan menghadirkan lembaga bimbel di sekolah menjadi tanda, guru
tidak melaksanakan profesinya secara profesional dan total. Fenomena
bimbel di sekolah menunjukkan kenyataan, kepentingan siswa telah
diperalat demi kepentingan lain, terutama demi kepentingan bisnis.
Lembaga
bimbel yang datang ke sekolah tidak lelahanan (gratis). Mereka dibayar.
Demi kepentingan ini, siswa dan orangtua harus membayar. Aturan moral
yang berlaku untuk kasus ini adalah jika bimbel diperlukan sekolah demi
perbaikan prestasi siswa, sekolah tidak berhak menarik bayaran atas
kegiatan tambahan ini. Les tambahan merupakan tanggung jawab sekolah demi
kepentingan siswa. Namun, yang gratisan seperti ini tidak ada! Maka,
sekolah dan guru telah memanipulasi siswa menjadi alat demi kepentingan
sendiri. Guru menarik keuntungan dengan mengorbankan martabat profesinya
sendiri! Apa yang dilakukan? Berhadapan dengan situasi ini, apa yang
dapat dilakukan? Pertama, pemerintah dan guru seharusnya segera bertindak
untuk memulihkan martabat profesionalnya. Praksis kerja sama sekolah
dengan lembaga bimbel harus dihentikan, jika perlu sekolah yang melakukan
diberi teguran keras, sebab mereka telah melecehkan etika profesi guru
yang membuat fungsi mereka tidak dipercaya lagi dalam
masyarakat. Kedua, untuk itu perlu dibentuk Dewan Kehormatan Guru agar
profesi guru tetap terjaga kemartabatannya dan kepentingan masyarakat
luas tetap terjamin. Guru sesungguhnya hanya bisa menjaga martabatnya
melalui perilaku dan keteladanan hidup. Jika guru dan pendidik telah
menggadaikan etika profesinya, tidak ada lagi yang dapat mempertahankan
martabat dan keluhuran profesi mereka. Etika profesi adalah harta paling
berharga yang mereka miliki. Tanpa penghargaan atas etika profesi, guru
tak ubahnya pedagang kelontong dan sekolah menjadi toko grosiran. Mereka
akan terus menjual kepentingan siswa demi menggelembungkan pundi-pundi
pribadi.

Doni Koesoema A Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan
Pengembangan Profesional, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Salesian,
Roma


Salam

Om Ino

23 Maret 2007 at 3:07 am 9 komentar

Presiden SBY Luncurkan Jardiknas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari ini meluncurkan Jejaring
Pendidikan Nasional (Jardiknas). Peluncuran sarana pendidikan
berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini menjadikan
Jardiknas sebagai jejaring TIK terbesar di Indonesia.

SBY mengatakan Indonesia sebagai negara berpenduduk terbanyak ke
empat di dunia dengan 247 juta jiwa memiliki keragaman etnik,
geologi, geografi dan bahasa daerah tersebar di 17.000
pulau. “Jardiknas mengintegrasikan information and communication
technology (ICT) pada sistem pendidikan yang memungkinkan terjadinya
pertukaran pandangan, wawasan maupun pengalaman dalam bidang
pendidikan di seluruh Indonesia,” katanya usai membuka pertemuan
menteri-menteri se-Asia Tenggara ke-42 atau Southeast Asian Minister
of Education Organization (SEAMEO) di Hotel Westin, Nusa Dua,
Denpasar, Bali.

Jardiknas atau Indonesian Education Network adalah program pendidikan
berbasis internet dan intranet yang menghubungkan Depdiknas dengan
dinas pendidikan, sekolah-sekolah dan universitas. Saat ini
terhubung sebanyak 33 dinas pendidikan provinsi, 441 dinas
pendidikan kabupaten/kota, 3000 sekolah dan 84 perguruan tinggi.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan komitmen
pemerintah untuk mengembangkan pengelolaan pendidikan berbasis ICT
ini betul-betul serius. “Nantinya semua sekolah dan perguruan tinggi
akan tersambung online,” katanya.

Bambang menjelaskan program Jardiknas sejalan dengan pilar kebijakan
Depdiknas yaitu tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik di
bidang pendidikan. “Program ini dapat meningkatkan kualitas,
relevansi dan kompetisi di bidang pendidikan,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengungkapkan setelah infrastruktur sudah mulai
terbangun, tantangan ke depan adalah bagaimana mengisi dan
mengembangkan konten supaya e-government di bidang pendidikan betul-
betul dapat berjalan. “Mengisi konten dari jejaring ini jauh lebih
berat, merupakan tantangan yang lebih sulit daripada sekedar
membangun infrastruktur,” katanya pada dialog jarak jauh melalui
fasilitas Jardiknas dengan peserta dari 30 daerah yang tersebar di
seluruh Indonesia.

Adapun Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (Kabiro
PKLN) Depdiknas Gatot Hari Priowirjanto menyampaikan Jardiknas
bermanfaat untuk membangun infrastruktur dan konektivitas informasi
dan teknologi skala nasional. “Jardiknas juga mendukung proses
belajar mengajar berbasis ICT, pembelajaran jarak jauh, maupun
transfer knowledge,” tambah Gatot.

Bambang berharap melalui penerapan sistem Jardiknas untuk bidang
pendidikan akan mempermudah pelayanan dan mempercepat penanganan
masalah pendidikan antar daerah di seluruh Indonesia.

(Sumber : PIH Depdiknas)

Salam

Om Ino

23 Maret 2007 at 3:05 am 2 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Blog Stats

  • 68.023 hits
Maret 2007
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Clicks

  • Tidak ada