Menggadaikan Etika Profesi

23 Maret 2007 at 3:07 am 9 komentar

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/14/opini/3377628.htm
Doni Koesoema A

Gong kematian pendidikan nasional telah dibunyikan. Sekolah dan guru tidak
lagi percaya dan dipercaya sebagai pendidik dan pengajar. Tugas mereka
telah digantikan lembaga bimbingan belajar atau bimbel. Etika profesi pun
digadaikan demi uang! Silap terhadap uang akan membuat sebuah
pemerintahan hancur. Intuisi Solon (630-560 SM) juga berlaku bagi dunia
pendidikan kita. Jika mereka yang bertanggung jawab dalam mengurus
pendidikan di negeri ini silap uang, mulai dari pejabat di tingkat pusat
sampai guru di tingkat sekolah negeri, akhir dunia pendidikan kita ada di
depan mata. Kehadiran lembaga bimbel di sekolah negeri adalah tanda
paling jelas tentang hancurnya moralitas dan matinya etika profesi.
Menjadi guru adalah menghayati profesi. Apa yang membedakan sebuah profesi
dengan pekerjaan lain adalah bahwa untuk sampai pada profesi itu seseorang
berproses lewat belajar. “Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga
berwujud sebagai jabatan dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut
keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan itu serta
pelayanan baku terhadap masyarakat.” (HAR Tilaar, 2002, 86) Tanpa etika
profesi, lembaga pendidikan hanya akan diisi orang-orang yang bernafsu
memuaskan kepentingan diri dan kelompok. Tanpa etika profesi, nilai
kebebasan dan individu tidak dihargai. Untuk inilah, tiap lembaga
pendidikan memerlukan keyakinan normatif bagi kinerja pendidikan yang
sedang diampunya. Etika profesi dan standar moral harus dimiliki tiap
individu yang terlibat dunia pendidikan. Ini penting sebab corak
relasional antarindividu dalam lembaga pendidikan tidak imun dari unsur
kekuasaan yang memungkinkan ditindasnya individu yang satu oleh individu
lain. Selain itu, etika profesi menjadi pedoman saat muncul konflik
kepentingan agar kepentingan masyarakat umum tetap terjamin melalui
pelayanan profesional itu. Tanpa etika profesi, lembaga pendidikan
berubah menjadi toko grosiran di mana keuntungan dan tumpukan uang
menjadi tujuan. Dalam kenyataan, tiap individu dalam dunia pendidikan
terlibat negosiasi dan perjumpaan dengan orang lain, seperti guru,
karyawan, orangtua, siswa, masyarakat, pegawai pemerintahan, dan lembaga
bimbel. Peristiwa perjumpaan ini amat rentan dengan konflik kepentingan.
Jika konflik kepentingan muncul, manakah standar moral dan etika profesi
yang dipakai sebagai sarana untuk memecahkan konflik? Maksim moral Kant
Setiap profesi, apa pun, termasuk guru, tidak dapat melepaskan diri
dari prinsip moral dasar yang diajukan Immanuel Kant. Maksim moral
Immanuel Kant berbunyi, “Bertindaklah terhadap kemanusiaan itu sedemikian
rupa sehingga engkau memperlakukan pribadi itu sendiri atau yang lain
bukan sebagai alat, tetapi sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri.”
Dengan memperlakukan individu atau pribadi dalam kerangka tujuan
keberadaan
mereka, Kant implisit mengakui, tiap individu memiliki nilai-nilai
intrinsik. Individu itu bernilai dalam diri sendiri. Karena itu, tiap
penguasaan atau perbuatan yang menundukkan mereka, menjadi sarana bagi
tujuan pribadi individu, merupakan pelanggaran atas norma moral. Kerja
sama antara lembaga sekolah dan lembaga bimbel menyiratkan adanya konflik
kepentingan. Demi kepentingan siapa lembaga bimbel itu ada? Siswa, guru
dan sekolah, orangtua, atau lembaga bimbel? Mungkin ada yang berpendapat,
yang diuntungkan adalah semua, yaitu siswa, guru/sekolah, orangtua, dan
lembaga bimbel. Siswa bisa kian percaya diri dalam menghadapi ujian
nasional (UN). Orangtua merasa nyaman dan aman anaknya akan siap
menghadapi UN dan tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, sekolah untung
karena prestasi menjadi tinggi, guru untung sebab dapat tambahan uang
saku, dan lembaga bimbel untung karena dapat fulus dari proyek ini. Namun
tidak semua berpendapat demikian sebab tidak semua siswa, guru,
dan orangtua diuntungkan! Kehadiran lembaga bimbel di sekolah merupakan
indikasi konflik kepentingan yang mengorbankan martabat guru, memperalat
siswa, mengelabui orangtua, dan menipu masyarakat. Maksim moral Kant
mensyaratkan, dalam setiap hal kita harus menghormati pribadi atau yang
lain sebagai bernilai dalam diri sendiri dan tidak pernah memanfaatkan
mereka sebagai alat demi tujuan tertentu (bahkan yang tampaknya baik dan
menguntungkan!) Tugas mendidik dan mengajar siswa merupakan hak
istimewa yang menjadi monopoli guru. Ketika tugas ini diserahkan kepada
lembaga lain yang tidak memiliki monopoli profesi muncul pertanyaan.
Selama ini apa yang telah dilakukan para guru dalam mendidik siswa?
Keinginan menghadirkan lembaga bimbel di sekolah menjadi tanda, guru
tidak melaksanakan profesinya secara profesional dan total. Fenomena
bimbel di sekolah menunjukkan kenyataan, kepentingan siswa telah
diperalat demi kepentingan lain, terutama demi kepentingan bisnis.
Lembaga
bimbel yang datang ke sekolah tidak lelahanan (gratis). Mereka dibayar.
Demi kepentingan ini, siswa dan orangtua harus membayar. Aturan moral
yang berlaku untuk kasus ini adalah jika bimbel diperlukan sekolah demi
perbaikan prestasi siswa, sekolah tidak berhak menarik bayaran atas
kegiatan tambahan ini. Les tambahan merupakan tanggung jawab sekolah demi
kepentingan siswa. Namun, yang gratisan seperti ini tidak ada! Maka,
sekolah dan guru telah memanipulasi siswa menjadi alat demi kepentingan
sendiri. Guru menarik keuntungan dengan mengorbankan martabat profesinya
sendiri! Apa yang dilakukan? Berhadapan dengan situasi ini, apa yang
dapat dilakukan? Pertama, pemerintah dan guru seharusnya segera bertindak
untuk memulihkan martabat profesionalnya. Praksis kerja sama sekolah
dengan lembaga bimbel harus dihentikan, jika perlu sekolah yang melakukan
diberi teguran keras, sebab mereka telah melecehkan etika profesi guru
yang membuat fungsi mereka tidak dipercaya lagi dalam
masyarakat. Kedua, untuk itu perlu dibentuk Dewan Kehormatan Guru agar
profesi guru tetap terjaga kemartabatannya dan kepentingan masyarakat
luas tetap terjamin. Guru sesungguhnya hanya bisa menjaga martabatnya
melalui perilaku dan keteladanan hidup. Jika guru dan pendidik telah
menggadaikan etika profesinya, tidak ada lagi yang dapat mempertahankan
martabat dan keluhuran profesi mereka. Etika profesi adalah harta paling
berharga yang mereka miliki. Tanpa penghargaan atas etika profesi, guru
tak ubahnya pedagang kelontong dan sekolah menjadi toko grosiran. Mereka
akan terus menjual kepentingan siswa demi menggelembungkan pundi-pundi
pribadi.

Doni Koesoema A Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan
Pengembangan Profesional, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Salesian,
Roma


Salam

Om Ino

Iklan

Entry filed under: Petikan Berita.

Presiden SBY Luncurkan Jardiknas Percaya gak percaya!

9 Komentar Add your own

  • 1. Pak Guru Joni  |  26 Maret 2007 pukul 2:51 am

    Pekerjaan yang terberat itu memang guru… Setiap tingkah laku guru akan diamati orang 24 jam dimana pun berada. Jadi memang tidak bebas. Padahal guru juga manusia ya…….

    Balas
  • 2. irfi dewi  |  2 Oktober 2007 pukul 1:04 pm

    malam pak….saya mahasiswa semester V amik riau ingin membuat sebuah makalah tentang etika profesi. tapi saya kebingungan dalam penyusunan makalah tersebut.bisakah bapak menolong saya dengan mengirimkan sebuah makalah etikaprofesi ke email saya. terima kasih atas bantuannya…

    Balas
  • 3. LINA  |  18 November 2007 pukul 3:45 am

    ASsalamu’alaikum,,

    ma’af seblumnya,Saya ingin menanyakan sesuatu hal yang berkaitan dengan etika profesi.begini MbAk/Mas “MENGAPA ETIKA PROFESI HARUS JUJUR DAN PROFESIONAL” dan “BAGAIMANA CARA MENGATASI SEORANG AKUNTAN YANG TIDAK JUJUR dan TIDAK PROFESIONAL”

    Cukup sekian dulu,Sebelumnya Saya Ucapkan
    Trimakasih atas Perhatian.

    WasS.

    Balas
  • 4. Sibolga, Tapteng - Sumut  |  25 Maret 2008 pukul 8:24 am

    assalamualaikum
    nama saya widiya,saya di suruh membuat makalah tentang etika profesi
    dokter anak sebanyak 25 halaman ,tapi saya tidak tau tentang etika dokteranak,apa bapa bisa membantu saya?dengan mengirimkan contoh makalah etika profesi dokter anak ke e-mail saya (wstepani@yahoo.co.id).Terimakasi bantuannya.

    Balas
  • 5. sherly  |  25 April 2008 pukul 8:50 am

    saya sedang membuat makalah tentang etika profesi guru, apakah bapak bisa membantu saya untuk mencari buku-buku yang bisa dijadikan referensi penulisan saya… tolong kirim ke email saya..sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Balas
  • 6. imran sinong  |  28 April 2008 pukul 12:41 am

    Maaf dek sherly, saya gak tahu alamat email adek.

    Balas
  • 7. jaka  |  13 Mei 2008 pukul 12:24 pm

    malem pak.. kenalkan saya mahasiswa sebuah perguruan swasta di semarang…
    malm ini saya harus brows makalah tentang hub. antara iman, akhlak dan etika profesi. kebetulan mata kuliah yg sy jalani adalah etika profesi. lebih spesifik lagi dalam kaitannya dengan profesi keteknikan. ex, kontraktor, konsultan, pengawas, pu bahkan mandor atau kuli sekalipun. mohon bantuannya kpd siapapun yang sudi bantu saya terutama sy berharap banget kepada bapak sendiri.

    oc. tanx’s before

    Balas
  • 8. daffa  |  6 Desember 2008 pukul 1:31 pm

    aluw, saya mahasiswi semester I perguruan swasta di balikpapan…
    saya di beri tugas oleh dosen saya untuk membuat makalah tentang “etika profesi sebagai rambu-rambu tugas dan tanggung jawab asisten menejer”
    mohon bantuannya untuk penyusunan makalah tersebut di atas, karna saya sudah mencari d internet tp tidak ada yang sesuai dengan tema di atas
    saya sangat berharap anda dapat membantu saya.
    waktu saya tinggal 4 hari lagi. saya sampe stres mikirinnya.
    please bantu saya
    tolong kirim ke email saya di
    daffa379@yahoo.com
    sebelumnya saya ucapkan trimakasih

    regards

    daffa

    Balas
  • 9. abdul kadir  |  9 Juni 2009 pukul 10:11 am

    saya mahasiswa, meminta bantuan bapak mengirimkan literatur tentang etika profesi, tlg kirim ke email saya abdulkadir_7442@yahoo.co.id.
    Terima kasih sebelumnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 62,401 hits
Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Clicks

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: