Archive for Januari, 2008

Pasca Kepergian Presiden ke 2 RI

Setelah kurang lebih sebulan di rawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, akhirnya mantan orang no. 1 di Indonesia selaman 32 tahun, menghadap ke Sang Khaliq….

Pro dan kontra pun tetap mengiringi kepergiaannya, ada yang sangat merasa kehilangan, mengirim karangan bunga bahkan langsung melayat ke rumah duka. TIdak tanggung-tanggung pula, presiden RI SBY, menetapkan 7 hari berkabung nasional.

Sangat kontras dengan moment ketika presiden RI pertama meninggal, tidak ada hiruk pikuk yang terlalu istimewa. mungkin karena pejabat di masa itu kurang yang memiliki utang jasa.

kondisi ini sangat jelas terasa perbedaannya, Soeharto begitu di elu-elukan, pemberitaan di media menjadi tidak berimbang, yang di publikasikan hanya peristiwa yang menggambarkan heroismenya, keberhasilannya.

Padahal pada saat bersamaan, tidak sedikit pula yang masih menuntut di lanjutkannya perkara-perkara yang pernah di lakukan oleh mantan orang nomor satu tersebut yang masih menyimpan ganjalan di hati karena ketidak adilan.

Saya sendiri, secara kemanusiaan mengangkat topi atas berpulangnya kerahmatullah mantan Presiden kedua Indonesia. Tetapi saya berharap, perkara yang ditimbulkan pada masa kepemimpinannya tidak serta merta ikut terkubur seiring dikebumikannya jasadnya.

Jika ini terjadi, maka ini dapat menjadi preseden buruk, bahwa kalau pelanggaran yang dilakukan oleh orang besar dapat dihapus dengan berbagai alasan yang tidak rasional.

Bagaimana dengan anda???

apakah anda pro soeharto atau kah kontra???

Salam

Om Ino

28 Januari 2008 at 6:09 am Tinggalkan komentar

Mengurus Berkas Untuk pindah wilayah kerja

Saya sekarang sedang mengurus berkas kepindahan istri saya dari Kota Ternate Propinsi Maluku Utara ke Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. kegiatan ini telah beberapa bulan lalu saya rintis, dan sekarang telah sampai pada tahap pemasukan berkas ke walikota Makassar.

Minggu lalu saya ke walikota melalui bagian kepegawaian, menemui salah seorang pegawai di sana, setelah melihat permohonan dan berkas yang saya lampirkan, beliau mengatakan masih ada berkas dan kurang, salah satunya adalah surat pengantar dari Dinas Pendidikan Kota Makassar.

Lalu hari itu juga saya menuju kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar dan menemui pegawai yang mengurus bagian surat pengantar tersebut. Setelah saya ke sana, di disposisi oleh petugasnya, lalu ke bagian yang akan mengetik surat itu, ternyata petugasnya sakit dan sedang di opname. Yang membuat saya heran, arsip surat hardcopy maupun softcopynya hanya di simpan oleh petugas yang sedang di opname tersebut, padahal ini terkait dengan layanan umum.

Besoknya saya ke sana lagi ternyata masih sakit, tapi sekarang udah berada di rumahnya, lalu terpaksa saya pun mendatangi rumahnya. lalu menyerahkan permohonan untuk dibuatkan surat pengantar ke walikota. Setelah di baca beliau mengusahakan untuk mengurusnya hari senin (sebagai catatan saya ke sana hari Jumat). Hari seninnya saya ke sana kembali ternyata suratnya baru sampai di meja Kepala Dinas, dan belum di tanda tangani. Kemaren (hari selasa) saya kembali menanyakannya via Telp ke petugas tersebut dan ternyata juga belum di tanda tangani, lalu hari ini (rabu) saya kembali menelfonnya dan ternyata masih dengan jawaban yang sama, suratnya masih di meja pimpinan dan belum di tanda-tangani. Saya tidak tahu apakah benar belum ditandatangani ato hanya alasan petugasnya saja.

Apakah saya mesti melakukan cara yang biasa dipakai orang untuk memperlancar urusannya (uang pelicin), karena beredar rumor di instansi tersebut telah sering berlaku praktek tersebut, berkas akan sulit untuk segera selesai jika tanpa kong x kong. ????

Ada 2 hal yang menjadi pertimbangan saya :

  1. Saya tidak familiar dengan metode seperti itu (suap) mudah-mudahan terus seperti itu.
  2. Saya ingin segera mendapatkan surat pengantar tersebut untuk segera mengurus fase berikutnya di walikota.

mohon nasehat dan petunjuk teman-teman ……

Salam

Om Ino.

9 Januari 2008 at 1:51 am Tinggalkan komentar

Tahun Baru Masehi dan Hijriyah

Pada dasarnya perhitungan kalender masehi mengikuti peredaran Matahari dan hijriyah peradaran bulan (tolong dikoreksi kalau salah, saya pun belum tahu metode perhitungan kalender untuk cina dan jawa).

Yang ingin saya ulas kali ini bukan mekanisme perhitungannya, tetapi kencuderungan rakyat indonesia untuk merayakan tahun baru masehi dibandingkan dengan tahun baru Hijriyah, padahal kalau dilihat dari sisi religi, penduduk Indonesia mayoritas MUSLIM, sedangkan Muslim patokan perhitungan kalendernya adalah Hijriyah.

Dari pengamatan saya beberapa kali moment tahun baru masehi dan hijriyah, mayoritas umat muslim turut merayakan tahun baru masehi bahkan hingar bingar perayaannya lebih terasa dibandingkan dengan tahun baru hijriyah.

Saya bukan tidak setuju dengan turutnya umat muslim dalam perayaan tahun baru masehi, tetapi yang saya sayangkan, kok hingar bingarnya tahun baru masehi tidak sama dengan tahun baru Hijriyah, minimal semangatnya.

Apa yang telah terdegradasi dari kekurang pedulian umat muslim terhadap perayaan tahun baru hijriyah dan hari-hari besarnya?? telah terkikiskah oleh modernisasi? atau kah pengemasan perayaan hari-hari besar umat muslim telah kalah saing dengan perayaan lainnya????

Mohon kesadarannya untuk mencermati hal ini untuk syiar ISLAM….

Salam

Om INo

3 Januari 2008 at 1:37 am Tinggalkan komentar

Jalur Khusus Menjadi ORANG BESAR

Memang cukup unik negara yang satu ini, negara yang dianggap paling kaya, paling subur, dengan berbagai potensi sumberdaya alamnya. Negara ini juga memiliki potensi berbagai suku dan budaya (tapi akhir-akhir ini justru menjadi bumerang, karena seringnya konflik antar suku). Negara tersebut di sebut indonesia, yang terbentang dari sabang sampai merouke.

Di beberapa aspek, negara tersebut memiliki keunikan, dari aspek politik, sosial budaya bahkan kultur pendidikan. Saya ingin sedikit mengupas tentang kultur pendidikan, di mana terdapat beberapa jalur khusus untuk orang khusus yang memang di khususkan untuk jadi ORANG BESAR.

Sebagai contoh :
1. ada lembaga pendidikan khusus dalam negeri yang membina orang-orang khusus (tidak untuk umum) yang khusus untuk menduduki jabatan tertentu.
2. ada juga lembaga khusus militer yang khusus membina orang khusus dan di siapkan untuk jabatan khusus.
3. ada juga pekerjaan yang setiap pelamar menyetor dana khusus dan langsung ikut pendidikan untuk mendapat pekerjaan tersebut. (konsekwensinya setelah bekerja mikir balik modal dulu).

Pada dasarnya orang yang tidak mempunya jalur khusus biasanya akan sulit untuk menjadi ORANG BESAR (ini biasanya loh). Jadi kalo diambil prosentase, ORANG BESAR di negara ini dominan berasal dari ORANG BESAR. Padalah kalau dari pemikiran saya, ORANG BESAR karena KEMAMPUAN, POTENSI dan KEAHLIANnya, bukan karena jalur khusus yang di desain sedemikian rupa sehingga menjadi lembaga yang diakui oleh negara.

Semoga di tahun ini, metode rekruitment beberapa lembaga pendidikan strategis tersebut, terbuka untuk umum, trasparant dan tidak memerlukan kompensasi biaya khusus.

Padahal saya dulu juga pengen masuk Polisi, harus nya sekarang udah jadi tentara…. Hahaha gimana nyambungnya POLRI dan TNI hahaha….

Salam

Om Ino

3 Januari 2008 at 1:17 am Tinggalkan komentar


Blog Stats

  • 68.023 hits
Januari 2008
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Clicks

  • Tidak ada