Archive for 14 Maret 2019

KUNJUNGAN KE KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI) DI KOREA SELATAN

Program pelatihan guru luar negeri yang dilaksanakan di Korea Selatan yang organisasi oleh Indonesia Korea Culture & Study (IKCS), ada beberapa UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang menyelenggarakan pelatihan di Guru di Korea Selatan, antara lain Direktorat Paud dan Dikmas GTK sejumlah 40 Guru dan LPPPTK KPTK juga sejumlah 40 Guru yang ditempatkan pada beberapa perguruan tinggi yaitu Wonju National University, Seogang College, Yeoju Institute of Technology dan Kimpo University. Kami Tim RPL dan TKJ di tempatkan di Seogang College Bersama 7 orang dari Paud & Dikmas GTK.

Berdasarkan Jadwal yang diberikan oleh IKCS terdapat 2 tahap kunjungan ke KBRI, tahap pertama pada tanggal 12 Maret 2019 dan tahap kedua tanggal 26 Maret 2019. Namun karena kebutuhan teman-teman guru SMK yang saya dampingi akhirnya saya ijin untuk ikut hadir juga di tahap I

Berbekal peta subway Kami tim pendamping berangkat dari seogang college menuju ke KBRI di Seoul Korea Selatan, karena semangat yang tinggi ingin segera sampai ke KBRI menembus dinginnya udara Kota Seoul akhirnya kami tiba, bahkan lebih awal 90 menit dari jadwal yang telah ditetapkan. Kami kemudian meminta ijin untuk masuk namun karena Standar keamanan yang diterapkan kepolisian Korea terkait tamu kedutaan kami belum boleh diijinkan masuk, namun beruntung kami berpapasan dengan petugas KBRI yang akan masuk ke kedutaan setelah rehat, tanpa sungkan saya menyapa dan beliau dengan ramah membalas, kami jelaskan maksud kedatangan kami setelah itu kemudian beliau memberikan arahan kepada petugas keamanan untuk mengijinkan kami masuk.

Pertemuan kemudian dilaksanakan tepat waktu aula keduataan lantai dua, diawali dengan sambutan dari pihak keduataan, kemudian penyampaian maksud kedatangan kami yang diwakili dari pihak GTK. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sesi tanyajawab. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk bertanya. Berikut catatan Terkait pertanyaan dan jawaban dari pihak KBRI

Sehubungan dengan Program Revitalisasi SMK Melalui Peraturan Presiden nomor 9 tahun 2016 dan program Zonasi untuk membekali usia produktif Indonesia yang melimpah yang terkait beberapa hal antara lain : sinergi dengan Industri, pola magang di industry, pola pembinaan guru,  Sertifikasi profesi.

Kami ingin mendapat gambaran dan petunjuk terkait :

1.      Apakah dari KBRI dapat memfasilitasi kami untuk dapat berkunjung ke SMK DI Korea Selatan untuk jadi sebagai bahan perbandingan di sekolah masing-masing.

2.      Apakah ada jalur untuk Siswa SMK DI indonesia untuk magang di perusahaan Korea?

3.      Apakah ada peluang untuk program pertukaran guru/pelajar?

4.      Apakah ada jalur untuk mengundang orang indonesia yang sukses untuk menceritakan success story-nya sehingga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin maju.

Jawaban dari pihak KBRI

1.      Untuk dapat berkunjung ke SMK Harus ada MoU terleih dahulu, misalnya melalui sister school. Sekolah di korea selatan pada umumnya sangat stright karena kurikulumnya sangat padat. Biasanya program tersebut sangat besar peluangnya jika melalui perguruan tinggi.

2.      Program magang. di perusahaan korea dilakukan melalui sekolah yang telah berafiliasi dengan industri sehingga telah terdapat sinergitas antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan pihak industri.

3.      Program Goverment to Government (G to G) untuk bekerja bergantung Kuota yang telah ditentukan oleh pemerintah korera dan melalui seleksi yang ketat sehingga perlu berhati-hati terkait penawaran untuk bekerja di korea, harus selektif dan sebaiknya berkoordinasi dengan pihak KBRI. Bekerja di korea memang menjadi dambaan karena Upah Minimum Regional di Korea berkisar 24 juta rupiah perbulan.

4.      Regulasi terkait Pertukaran Pelajar dan Guru sementara di godok, silahkan melakukan MoU dan menindaklanjuti sesuia dengan butir kesepakatan.

5.      KBRI di Korea Selatan memiliki Program Pembinaan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan. Bentuk kegiatannya berupa Kursus, pelatihan. kampung korea yang tujuannya memberikan bekal sebelum bekerja di korea selatan maupun memberikan edukasi untuk memberdayakan hasil yang diperoleh di korea untuk lebih produktif setelah kembali ke tanah air.

Demikian beberapa informasi sekaitan dengan kunjungan TIM pendamping pelatihan guru di Korea Selatan pada Seogang College.

Imran

 

14 Maret 2019 at 7:34 pm Tinggalkan komentar

BUDAYA TERTIB DAN “PALI… PALI” DI SEOUL KOREA SELATAN

Bagian I

[Korea Selatan] Program Pelatihan Guru Luar Negeri (PGLN) di Korea Selatan banyak memberikan pelajaran dari sisi Kultur dan budaya keseharian warga Seoul-Korea Selatan. Berikut ini segelumit pengalaman yang menarik untuk dapat dijadikan bahan perbandingan yang jika diimplementasikan dilingkungan kita di Indonesia akan memberikan dampak positif untuk dapat hidup lebih humanis.

Hari Pertama. Hal pertama yang diingatkan oleh pendamping adalah budaya korea untuk tidak merokok di sembangan tempat, untuk merokok di publik area telah ditentukan tempatnya. Misalnya di Hostel tempat kami menginap yaitu International Youth Center (IYC) memberikan ruang special bagi para perokok, para perokok di isolasi di ruangan khusus sehingga asap rokok tidak dihirup oleh perokok pasif. Hal menarik lainnya pada lokasi menginap kami di IYC, pemisahan sampah sudah dibudayakan membagi tiga kategori sampah, yaitu 1). sampah daur ulang kerta dan plastic; 2) sampah plastic lainnya; dan 3) sampah sisa makanan. Dengan demikian pengelola kebersihan di IYC dimudahkan dalam pengelolaan sampah.

Hari Kedua. Pengalaman pertama menggunakan Subway. Hampir semua orang korea berjalan Pali pali. Pali dalam Bahasa korea berarti cepat. Sering kali kami menghalangi jalan para warga korea yang mengejar jadwal subway. Terdapat perbedaan posisi untuk orang yang ingin berjalan Pali-pali berada pada lajur kiri sedangkan yang ingin santai sebaiknya berada pada lajur kanan. Misalnya saat naik escalator, jika kita ingin santai sebaiknya pada posisi kanan, karena agar warga yang ingin pali-pali mengambil lajur kiri.

Budaya orang korea saat berada di dalam kereta subway umumnya selfies, ini mungkin sudah menjadi gejala alamiah kota besar, namun ketika kita bertanya secara umum orang korea akan menjawab dan berusaha membantu. Misalnya menanyakan jalur, mereka akan menjelaskan bahkan mengantarkan ke jalur yang seharusnya. Fasilitas dan petunjuk sangat memudahkan, peta subway yang berbasis arah mata angin, berbasis logical urutan station. Kodefikasi setiap lajur juga diberi nomer yang berbeda setiap linenya, dari line 1 sampai line 9. Setiap line pun diberi warna yang berbeda. Misalnya untuk line yang ke penginapan kami di IYC yaitu ke station Bangwa itu di line 5 dengan warna Ungu.

Hari Ketiga. Saat berkunjung ke Istana Gyeongbokgung, tentu ini merupakan salah satu spot menarik yang ingin dikunjungi jika berada di Seoul. Dari Hostel kami di IYC, kami cukup melalui Subway dari Line 5 kami turun di station Kyongbokkung. Yang menarik dari perjalanan kami adalah saat itu terjadi demonstrasi terkait pertemuan pemimpin Korea Utara dengan pemimpin Amerika, terjadi dua demonstrasi ada yang mendukung dan ada yang kontra. Namun kami sebagai tamu di negara tersebut tidak merasakan suasana yang mencekam seperti jika ada demonstrasi di Indonesia, ini karena semua titik yang di sekitar lokasi demonstrasi di jaga oleh polisi korea, mereka sangat terorganisir rapi dan siap siaga. Banyak sekali polisi yang berjaga tetapi tetap sopan dan santun. Bahkan di Istana sedang dilaksanakan parade ke kaisaran sebagai bentuk ekspose budaya Korea Selatan. Demikian segelumit pengalaman di Korea Selatan, tunggu laporan berikutnya. ***(Imran, IYT-Bongwa-Korea Selatan).

14 Maret 2019 at 7:27 pm Tinggalkan komentar


Blog Stats

  • 68.174 hits
Maret 2019
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Clicks

  • Tidak ada