BUDAYA TERTIB DAN “PALI… PALI” DI SEOUL KOREA SELATAN

14 Maret 2019 at 7:27 pm Tinggalkan komentar

Bagian I

[Korea Selatan] Program Pelatihan Guru Luar Negeri (PGLN) di Korea Selatan banyak memberikan pelajaran dari sisi Kultur dan budaya keseharian warga Seoul-Korea Selatan. Berikut ini segelumit pengalaman yang menarik untuk dapat dijadikan bahan perbandingan yang jika diimplementasikan dilingkungan kita di Indonesia akan memberikan dampak positif untuk dapat hidup lebih humanis.

Hari Pertama. Hal pertama yang diingatkan oleh pendamping adalah budaya korea untuk tidak merokok di sembangan tempat, untuk merokok di publik area telah ditentukan tempatnya. Misalnya di Hostel tempat kami menginap yaitu International Youth Center (IYC) memberikan ruang special bagi para perokok, para perokok di isolasi di ruangan khusus sehingga asap rokok tidak dihirup oleh perokok pasif. Hal menarik lainnya pada lokasi menginap kami di IYC, pemisahan sampah sudah dibudayakan membagi tiga kategori sampah, yaitu 1). sampah daur ulang kerta dan plastic; 2) sampah plastic lainnya; dan 3) sampah sisa makanan. Dengan demikian pengelola kebersihan di IYC dimudahkan dalam pengelolaan sampah.

Hari Kedua. Pengalaman pertama menggunakan Subway. Hampir semua orang korea berjalan Pali pali. Pali dalam Bahasa korea berarti cepat. Sering kali kami menghalangi jalan para warga korea yang mengejar jadwal subway. Terdapat perbedaan posisi untuk orang yang ingin berjalan Pali-pali berada pada lajur kiri sedangkan yang ingin santai sebaiknya berada pada lajur kanan. Misalnya saat naik escalator, jika kita ingin santai sebaiknya pada posisi kanan, karena agar warga yang ingin pali-pali mengambil lajur kiri.

Budaya orang korea saat berada di dalam kereta subway umumnya selfies, ini mungkin sudah menjadi gejala alamiah kota besar, namun ketika kita bertanya secara umum orang korea akan menjawab dan berusaha membantu. Misalnya menanyakan jalur, mereka akan menjelaskan bahkan mengantarkan ke jalur yang seharusnya. Fasilitas dan petunjuk sangat memudahkan, peta subway yang berbasis arah mata angin, berbasis logical urutan station. Kodefikasi setiap lajur juga diberi nomer yang berbeda setiap linenya, dari line 1 sampai line 9. Setiap line pun diberi warna yang berbeda. Misalnya untuk line yang ke penginapan kami di IYC yaitu ke station Bangwa itu di line 5 dengan warna Ungu.

Hari Ketiga. Saat berkunjung ke Istana Gyeongbokgung, tentu ini merupakan salah satu spot menarik yang ingin dikunjungi jika berada di Seoul. Dari Hostel kami di IYC, kami cukup melalui Subway dari Line 5 kami turun di station Kyongbokkung. Yang menarik dari perjalanan kami adalah saat itu terjadi demonstrasi terkait pertemuan pemimpin Korea Utara dengan pemimpin Amerika, terjadi dua demonstrasi ada yang mendukung dan ada yang kontra. Namun kami sebagai tamu di negara tersebut tidak merasakan suasana yang mencekam seperti jika ada demonstrasi di Indonesia, ini karena semua titik yang di sekitar lokasi demonstrasi di jaga oleh polisi korea, mereka sangat terorganisir rapi dan siap siaga. Banyak sekali polisi yang berjaga tetapi tetap sopan dan santun. Bahkan di Istana sedang dilaksanakan parade ke kaisaran sebagai bentuk ekspose budaya Korea Selatan. Demikian segelumit pengalaman di Korea Selatan, tunggu laporan berikutnya. ***(Imran, IYT-Bongwa-Korea Selatan).

Entry filed under: Serba Serbi.

LaFiZi KUNJUNGAN KE KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI) DI KOREA SELATAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 68.023 hits
Maret 2019
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Clicks

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: