The Charm of Torut : From Londa to the Clouds in To’Tombi

I don’t know exactly how many times I’ve been to Toraja (Tana Toraja and North Toraja), but I often visit this area for work purposes rather than for tourist purposes.

This time again I had the opportunity to visit North Toraja Regency for cooperation in preparing prospective school principals. The activity lasts for 5 days, the location of the activity chosen by the partner is the Missiliana Hotel which is a beautiful hotel, full of typical Toraja designs and decorations.

Since the former vice president, Mr. JK, visited the Toraja area, which is now known as the land above the clouds, it has strengthened the potential of Toraja as a destination for cultural tourism and nature tourism.

Tourism that is becoming mainstream is visited by domestic and foreign tourists to visit there increasingly rapidly, so we also visited with family on the post-Eid holidays in 2018, so many visitors were there to enjoy the atmosphere of the country above the clouds. but our family’s enthusiasm has not yet culminated in its climax because the cloud we were waiting for did not appear.

That curiosity which then peaked again to visit there to quench the thirst to meet the cloud.

Actually there is an opportunity in 2019 to quench your thirst to meet the cloud, but the shadows of disappointment squeezed so that you only visited Kete’ Kesu.

The thirst was finally quenched when unplanned returned to visit the location of the land above the clouds. Even Goa in Londa tour, which at that time was only outside, finally dared to enter the cave.

Sometimes a visit to a tourist spot does not culminate in a climax to the thirst for beauty that is coveted to be achieved, but an incidental visit that is not well-planned ends up beautifully.

Alhamdulillah, the thirst for longing to see the clouds has been fulfilled.

Imran – 17 Juli 2021

17 Juli 2021 at 3:31 pm Tinggalkan komentar

Studi Banding di Pyeongchon Management High School, Gyeonggi-do, Seoul Senin, 25 Maret 2019

Untuk melengkapi Program Pelatihan Guru Luar Negeri (PGLN), berdasarkan permintaan kawan-kawan guru akhirnya Pendamping PGLN di Seogang College meminta kepada pihak Indonesia Korea Cultute & Study (IKCS) untuk menjadwalkan kunjungan ke salah satu Sekolah Kejuruan di Seoul – Korea Selatan agar kawan-kawan guru mendapatkan bentuk implementasi Pendidikan Vokasi di Korea Selatan. Usul ini sebenarnya tidak begitu yakin untuk diwujudkan karena kami telah mendapat penjelasan dari pihak kedutaan RI di Seoul bahwa untuk melakukan kunjugan ke Sekolah di Korea perlu perencanaan yang matang karea semua sekolah di Korea Selatan memiliki kurikulum dan jadwal yang padat, dan mereka sangat konsisten dengan jadwal tersebut. Namun dengan usaha dan perjuangan melalui kolega Mr. Cris Chang beliau menghubungi Prof. Hong Sung-houn di Yeuju Institute of Technology (Y-Tech) yang secara kebetulan memiliki kenalan kepala sekolah di Pyeongchon Management High School (PCM HS), akhirnya kami memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sekolah tersebut.

Perjalanan kami tempuh dengan Bus dari IYC di Bangwha menuju kampus Y-Tech di Yeoju untuk menjemput Prof. Hong Sung-houn lalu Bersama menuju PCM HS, di gerbang sekolah kami telah melihat spanduk terpajang dengan tulisan “WELCOME – Selamat datang untuk mengunjungi- 2019.3.25 – Pyongchon Management High School”, walau kunjungan kami dijadwal secara dadakan namun pihak PCM HS telah melakukan persiapan dengan baik, hal ini terbukti dengan spanduk yang di siapkan di gerbang, di ruanga pertemuan dan Aula pertemuan, Banner yang pada TV Display, paparan dan penyambutan yang hangat dan bersahabat.

Saat memasuki Gedung kami diarahkan untuk masuk keruangan cafetaria yang sangat nyaman dan elegan, kami lalu ditawari minuman hangat dan beberapa snack kecil, sambil menikmati suguhan kami bincang-bincang ringan, lalu mereka memperkenalkan diri dengan Bahasa korea yang diterjemahkan oleh guru Bahasa Inggris, dari pembicaraan tersebut pihak sekolah menyampaikan bahwa nanti akan ada paparan dan tanya jawab, lalu kemudian akan berkeliling melihat aktifitas belajar maupun fasilitas yang ada. Setelah kami menikmati welcome drink kami kemudian diarahkan ke lantai II, di sana telah ditunggu oleh beberapa guru yang membagikan handout, air mineral, kue kering dan majalah sekolah yang telah dikemas dalam goodybag, hal tersebut memberikan kesan persiapan yang matang dan profesionalitas.

Pertemuan diawali dengan perkenalan Kepala sekolah Mr. Lee Keun Ho, Komite sekolah Prof. Dong Wook Lee, PhD. Yang kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dari kami terkait nama dan instansi. Kegiatan berikutnya Kepala sekolah kemudian memaparkan profile sekolah yang dibantu tranlator dan dilanjutkan oleh ketua jurusan Mrs. Park Chong wa yang menjelaskan tentang Smart Content terkait bagai mana mereka belajar dan apa yang dipelajari. Pada kurikulum mereka pada umumnya mempelajari tentang bahasa pemrograman seperti C, C++, Java, pithon. Mereka juga mempelajari metode pembuatan Aplikasi, Security dan robotic programming.

Beberapa informasi yang juga disampaikan adalah :

  • Program unggulan Employment Aligment Class, Mandatory Military Service Exception employment company. (Jika lulus Dibebaskan untuk ikut wajib militer)
  • Software leading School
  • Kegiatan Ekstra Kurikuler
  • Gyonggi Junior Content School, orientasi siswa SMP agar mengetahui tentang sekolah Vokasi
  • Autonomy club, Kelompok Belajar seperti PC-ZEN, TAG, 3D printing, Semicolones, Algoritma Pemrograman.
  • 1 team 1 complany Project, Pendampingan belajar langsung dari industri, Industri mengirimkan ekspert dibidang yang dibutuhkan siswa untuk didampingi dalam meningkatkan kompetensinya.

Berdasarkan paparan Mrs. Park Chong Wa kemudian kami diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi sekaitan dengan paparan, kurikulum maupun pola pembinaan guru yang dilakukan.

Kegiatan berikutnya kami berkeliling kampus, berikut ini beberapa ruangan yang sempat kami kunjungai :

  • Ruang Automomy Club, di ruangan tersebut telah ada beberapa group siswa yang mendemonstrasikan hasil aktivitas mereka seperti robot yang dapat melemparkan bola, sensor yang dikendalikan dari smart phone, desain tempat sampah otomatis, Virtual Reality dan beberapa hasil karya lain.
  • Ruang belajar untuk kulineri, diruang belajar tersebut didesain menjadi 2 bagian utama, ada bagian untuk belajar teori seperti kelas pada umumnya, dan ada bagian untuk kelas praktek yang penataannya sama persis dengan penataan diindustri.
  • Gedung Olahraga, para siswa terlihat sedang bermain bulutangkis, fasilitas olahraganya nyaman dan lengkap, ini dikarenakan adanya 4 musim di Korea sehingga pada waktu tertentu aktifitas olahraga diluar ruangan tidak dapat dilakukan.
  • Ruangan jurusan accounting dimana pada jurusan tersebut sedang melaksanakan program 1 team 1 complany project. Mereka memperlihatkan jadwal, ruangan pendampingan dan beberapa bentuk kegiatan yang rutin dilakukan diruangan tersebut.
  • Ruangan Boga, peserta didik sementara praktek membuat kue nastar, ada yang sementara membuat adonan, ada yang memanggang dan beberapa aktivitas lainnya, dan yang menarik kue kering yang dibagikan ke kami adalah produk dari para peserta didik di PCM HS. Kami juga mengunjungi ruangan untuk praktek masakan korea.
  • Ruangan Pertemuan, Ruangan ini mirip ruang teater, dari informasi yang diberikan ruangan ini digunakan untuk pertemuan rutin antara guru yang dilaksanakan 1 bulan 1 kali. Ruangan ini juga digunakan untuk pelatihan peningkatan kompetensi guru.

Hasil kunjuangan ke beberapa ruangan, menarik untuk menggali tentang desain kelas yang dibagi 2 bagian utama, ada space untuk teori dan untuk praktek. Hal tersebut saya tanyakan kepada Komite sekolah Prof. Dong Wook Lee, PhD terkait pola tersebut, beliau menjelaskan bahwa pihak pemerintah korea memberikan perhatian besar pada pendidikan vokasi, hubungan industri dengan sekolah vokasi sangat erat, kurikulum dan proses teaching factory sangat disupport oleh industri dan pemerintah sehingga apa yang dipelajari oleh peserta didik di sekolah sangat relevant dengan apa yang diterapkan di Industri. Sehingga pada dasarnya peserta didik vokasi sudah siap untuk bekerja di industi. Terkait pembiayaan mereka juga tidak pernah kesulitan karena pemerintah memberikan dukungan pembiayaan yang optimal untuk mendukung seluruh program di sekolah tersebut. Regulasi pemerintah juga sangat peduli dengan pendidikan dengan memberikan dukungan kepada sekolah untuk dapat bersinergi dengan industri.

Kunjugan ke PCM HS memberikan pengalaman menarik terkait bagaimana pengelolaan pendidikan vokasi mulai dari sarana dan prasarana, kurikulum, kegiatan belajar maupun kegiatan ekstra kurikuler hingga pada aspek pendukung pelaksanaan pendidikan di sekolah. Semoga informasi ini dapat menjadi wahana untuk memajukan pendidikan vokasi di Indonesia. ***(Imran, Pyeongchon Managemant High School – Seoul, Korea Selatan)***

Terimakasih kepada :

Prof. Hong Sung-houn, Korena Language School Managing Director, Yeoju Institute of Technology

Prof. Dong Wook Lee, Head of BUT Support Group Dept. of e-Business/ Stenograph Professor/Ph. D

Lee Keun Ho, Principal Pyeongchon Management High School. 7

25 Maret 2019 at 11:44 pm 4 komentar

KUNJUNGAN KE KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI) DI KOREA SELATAN

Program pelatihan guru luar negeri yang dilaksanakan di Korea Selatan yang organisasi oleh Indonesia Korea Culture & Study (IKCS), ada beberapa UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang menyelenggarakan pelatihan di Guru di Korea Selatan, antara lain Direktorat Paud dan Dikmas GTK sejumlah 40 Guru dan LPPPTK KPTK juga sejumlah 40 Guru yang ditempatkan pada beberapa perguruan tinggi yaitu Wonju National University, Seogang College, Yeoju Institute of Technology dan Kimpo University. Kami Tim RPL dan TKJ di tempatkan di Seogang College Bersama 7 orang dari Paud & Dikmas GTK.

Berdasarkan Jadwal yang diberikan oleh IKCS terdapat 2 tahap kunjungan ke KBRI, tahap pertama pada tanggal 12 Maret 2019 dan tahap kedua tanggal 26 Maret 2019. Namun karena kebutuhan teman-teman guru SMK yang saya dampingi akhirnya saya ijin untuk ikut hadir juga di tahap I

Berbekal peta subway Kami tim pendamping berangkat dari seogang college menuju ke KBRI di Seoul Korea Selatan, karena semangat yang tinggi ingin segera sampai ke KBRI menembus dinginnya udara Kota Seoul akhirnya kami tiba, bahkan lebih awal 90 menit dari jadwal yang telah ditetapkan. Kami kemudian meminta ijin untuk masuk namun karena Standar keamanan yang diterapkan kepolisian Korea terkait tamu kedutaan kami belum boleh diijinkan masuk, namun beruntung kami berpapasan dengan petugas KBRI yang akan masuk ke kedutaan setelah rehat, tanpa sungkan saya menyapa dan beliau dengan ramah membalas, kami jelaskan maksud kedatangan kami setelah itu kemudian beliau memberikan arahan kepada petugas keamanan untuk mengijinkan kami masuk.

Pertemuan kemudian dilaksanakan tepat waktu aula keduataan lantai dua, diawali dengan sambutan dari pihak keduataan, kemudian penyampaian maksud kedatangan kami yang diwakili dari pihak GTK. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sesi tanyajawab. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk bertanya. Berikut catatan Terkait pertanyaan dan jawaban dari pihak KBRI

Sehubungan dengan Program Revitalisasi SMK Melalui Peraturan Presiden nomor 9 tahun 2016 dan program Zonasi untuk membekali usia produktif Indonesia yang melimpah yang terkait beberapa hal antara lain : sinergi dengan Industri, pola magang di industry, pola pembinaan guru,  Sertifikasi profesi.

Kami ingin mendapat gambaran dan petunjuk terkait :

1.      Apakah dari KBRI dapat memfasilitasi kami untuk dapat berkunjung ke SMK DI Korea Selatan untuk jadi sebagai bahan perbandingan di sekolah masing-masing.

2.      Apakah ada jalur untuk Siswa SMK DI indonesia untuk magang di perusahaan Korea?

3.      Apakah ada peluang untuk program pertukaran guru/pelajar?

4.      Apakah ada jalur untuk mengundang orang indonesia yang sukses untuk menceritakan success story-nya sehingga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin maju.

Jawaban dari pihak KBRI

1.      Untuk dapat berkunjung ke SMK Harus ada MoU terleih dahulu, misalnya melalui sister school. Sekolah di korea selatan pada umumnya sangat stright karena kurikulumnya sangat padat. Biasanya program tersebut sangat besar peluangnya jika melalui perguruan tinggi.

2.      Program magang. di perusahaan korea dilakukan melalui sekolah yang telah berafiliasi dengan industri sehingga telah terdapat sinergitas antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan pihak industri.

3.      Program Goverment to Government (G to G) untuk bekerja bergantung Kuota yang telah ditentukan oleh pemerintah korera dan melalui seleksi yang ketat sehingga perlu berhati-hati terkait penawaran untuk bekerja di korea, harus selektif dan sebaiknya berkoordinasi dengan pihak KBRI. Bekerja di korea memang menjadi dambaan karena Upah Minimum Regional di Korea berkisar 24 juta rupiah perbulan.

4.      Regulasi terkait Pertukaran Pelajar dan Guru sementara di godok, silahkan melakukan MoU dan menindaklanjuti sesuia dengan butir kesepakatan.

5.      KBRI di Korea Selatan memiliki Program Pembinaan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan. Bentuk kegiatannya berupa Kursus, pelatihan. kampung korea yang tujuannya memberikan bekal sebelum bekerja di korea selatan maupun memberikan edukasi untuk memberdayakan hasil yang diperoleh di korea untuk lebih produktif setelah kembali ke tanah air.

Demikian beberapa informasi sekaitan dengan kunjungan TIM pendamping pelatihan guru di Korea Selatan pada Seogang College.

Imran

 

14 Maret 2019 at 7:34 pm Tinggalkan komentar

BUDAYA TERTIB DAN “PALI… PALI” DI SEOUL KOREA SELATAN

Bagian I

[Korea Selatan] Program Pelatihan Guru Luar Negeri (PGLN) di Korea Selatan banyak memberikan pelajaran dari sisi Kultur dan budaya keseharian warga Seoul-Korea Selatan. Berikut ini segelumit pengalaman yang menarik untuk dapat dijadikan bahan perbandingan yang jika diimplementasikan dilingkungan kita di Indonesia akan memberikan dampak positif untuk dapat hidup lebih humanis.

Hari Pertama. Hal pertama yang diingatkan oleh pendamping adalah budaya korea untuk tidak merokok di sembangan tempat, untuk merokok di publik area telah ditentukan tempatnya. Misalnya di Hostel tempat kami menginap yaitu International Youth Center (IYC) memberikan ruang special bagi para perokok, para perokok di isolasi di ruangan khusus sehingga asap rokok tidak dihirup oleh perokok pasif. Hal menarik lainnya pada lokasi menginap kami di IYC, pemisahan sampah sudah dibudayakan membagi tiga kategori sampah, yaitu 1). sampah daur ulang kerta dan plastic; 2) sampah plastic lainnya; dan 3) sampah sisa makanan. Dengan demikian pengelola kebersihan di IYC dimudahkan dalam pengelolaan sampah.

Hari Kedua. Pengalaman pertama menggunakan Subway. Hampir semua orang korea berjalan Pali pali. Pali dalam Bahasa korea berarti cepat. Sering kali kami menghalangi jalan para warga korea yang mengejar jadwal subway. Terdapat perbedaan posisi untuk orang yang ingin berjalan Pali-pali berada pada lajur kiri sedangkan yang ingin santai sebaiknya berada pada lajur kanan. Misalnya saat naik escalator, jika kita ingin santai sebaiknya pada posisi kanan, karena agar warga yang ingin pali-pali mengambil lajur kiri.

Budaya orang korea saat berada di dalam kereta subway umumnya selfies, ini mungkin sudah menjadi gejala alamiah kota besar, namun ketika kita bertanya secara umum orang korea akan menjawab dan berusaha membantu. Misalnya menanyakan jalur, mereka akan menjelaskan bahkan mengantarkan ke jalur yang seharusnya. Fasilitas dan petunjuk sangat memudahkan, peta subway yang berbasis arah mata angin, berbasis logical urutan station. Kodefikasi setiap lajur juga diberi nomer yang berbeda setiap linenya, dari line 1 sampai line 9. Setiap line pun diberi warna yang berbeda. Misalnya untuk line yang ke penginapan kami di IYC yaitu ke station Bangwa itu di line 5 dengan warna Ungu.

Hari Ketiga. Saat berkunjung ke Istana Gyeongbokgung, tentu ini merupakan salah satu spot menarik yang ingin dikunjungi jika berada di Seoul. Dari Hostel kami di IYC, kami cukup melalui Subway dari Line 5 kami turun di station Kyongbokkung. Yang menarik dari perjalanan kami adalah saat itu terjadi demonstrasi terkait pertemuan pemimpin Korea Utara dengan pemimpin Amerika, terjadi dua demonstrasi ada yang mendukung dan ada yang kontra. Namun kami sebagai tamu di negara tersebut tidak merasakan suasana yang mencekam seperti jika ada demonstrasi di Indonesia, ini karena semua titik yang di sekitar lokasi demonstrasi di jaga oleh polisi korea, mereka sangat terorganisir rapi dan siap siaga. Banyak sekali polisi yang berjaga tetapi tetap sopan dan santun. Bahkan di Istana sedang dilaksanakan parade ke kaisaran sebagai bentuk ekspose budaya Korea Selatan. Demikian segelumit pengalaman di Korea Selatan, tunggu laporan berikutnya. ***(Imran, IYT-Bongwa-Korea Selatan).

14 Maret 2019 at 7:27 pm Tinggalkan komentar

LaFiZi

LaFiZi adalah akronim yang diciptakan oleh tiga gadis kecilku, yang merupakan gabungan 2 huruf awal dari nikc name mereka yaitu LAeyka – FIra – ZIla. Akronim ini sering mereka pakai ketika mereka membuat skenario video yang mereka rekam saat mereka bermain peran sesuai dengan topik permainan yang mereka mainkan.

LaFiZi terkadang terlihat sangat kompak, tetapi tidak jarang juga terjadi konflik di antara mereka, LafiZi ternyata saling mencari jika mereka tidak bertemu, terbukti jika sore hari mereka sudah berada di rumah lalu salah satu dari mereka tidak terlihat maka akan saling merindukan.

Satu aktor yang sering menjadi kendala ketika mereka memainkan peran adalah Zaidan, sering ingin ikut dengan gank mereka, tetapi karena temanya hanya untuk mereka bertiga maka Zaidan sering tidak dapat peran, karena tidak dapat peran akhir selalu menjadi antagonis.

Miss U all LaFiZi + Zaidan

30 Agustus 2018 at 4:46 pm Tinggalkan komentar

Merasa Asing Di Kampung Sendiri

Minggu ini saya mendapat tugas untuk melatih calon Kepala Sekolah. Kegiatan berlangsung dari tanggal 28 Agustus – 2 September 2018.

Hari Kedua, kegiatan di pusatkan alun-alun Kota Benteng Selayar, setelah kegiatan selesai, tim Fasilitator (Bu Irlidya, Pak Karsidi kemudian menikmati pesona pantai di sekitar alun-alun tersebut.

Ketika asyik berfoto, saya kemudian merefelksi, kok saya berada di kampung sendiri tetapi merasa asing di sini. Ada apa gerangan, kenapa tidak ada rasa senang, atau dahaga yang hilang seperti orang lain ketika tiba di kampung halaman?

Boleh jadi karena selama ini saya hanya numpang lahir, tidak ada memori yang terlalu berkesan di kampung ini, karena masa kecil lebih banyak di kota Makassar, atau karena orang tua dan saudara saya semua sudah di Makassar, sehingga saat moment mudik di hari raya, saya tidak pernah mudik ke sini.

Saya ke Selayar cenderung karena urusan kantor/Dinas bukan karena alasan mudik atau liburan.

Oh kasihan diriku, yang terasing di kampung sendiri.

selayar2018

Raeihan Square, 29 Agustus 2018

 

Om Imran Sinong

30 Agustus 2018 at 4:35 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Blog Stats

  • 68.023 hits
Juni 2022
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Clicks

  • Tidak ada